Hari ini melelahkan sekali. Seperti biasa, menjadi seorang entertainer itu tidak mudah dan merupakan sebuah keajaiban jika bisa pulang ke rumah produksi lebih awal. Dan hari ini, sutradara sedang berbaik hati untuk menyudahi pekerjaan dan memperbolehkan semua kru-nya untuk pulang. Biasanya para kru akan berpesta semalaman hingga dini hari, tetapi aku tidak. Aku lebih suka menyendiri, di balkon, menatap indahnya malam, sunyi senyap, hal yang sangat jarang kulakukan semenjak menjadi seorang entertainer.
"Kau sudah makan?" Suara akrab itu...
"Belum. Tapi aku sedang tidak lapar.", jawabku tanpa menoleh.
"Bolehkah aku ikut berdiri di sini?"
Aku belum sempat menjawabnya dan memang tak berniat untuk menjawabnya tapi dia sudah berjalan ke arahku lalu memegang teralis dengan sebelah tangannya. Sepertinya dia sedang memegang gelas berisi anggur.
"Apa yang kau lihat di sini?"
"Apa yang membuatmu bertanya seperti itu?"
"Sudahlah."
"Bintang."
"Apa yang menarik?", dia mendengus.
Aku pun menghela napas, aku tahu aku harus sabar.
"Menurutku bintang itu unik."
"Jangan bilang karena dia bercahaya. Aku sudah bosan dengan alasan kekanak-kanakkan itu."
"Sayangnya tidak."
"Well, so?", sepertinya dia mulai tertarik.
"Bintang. Semakin terang ia, maka semakin banyak orang yang memperebutkannya karena ingin memilikinya.". Dan kau adalah bintang yang paling terang di mataku.
"Jadi, intinya, kau ingin semakin terkenal, dipuja-puja, dan diperebutkan oleh para penggemarmu begitu? Dasar.", celanya dengan nada mengejek.
Aku menghela napas lebih panjang. Aku harus lebih sabar.
"Hei, lihat! Aku suka bintang yang itu!"
"Yang mana?", tanyanya.
"Yang itu!", kataku sambil menunjuk salah satu bintang di langit, tapi hatiku tak pernah menunjuk ke arah bintang itu.
"Oh."
Aku mendengus kesal. Menjengkelkan benar, laki-laki ini!
"Menurutmu, bolehkah aku menyukai bintang itu?", kutuklah aku karena pertanyaan konyol ini.
"Kenapa? Apakah seseorang tak boleh menyukai sesuatu?"
Aku terdiam. Harus, harus boleh.
"Apakah, apakah bintang itu mengijinkannya?", Tuhan, kutuklah aku.
"Kau ini kekanak-kanakkan sekali. Pergi dan tanyakan kepada bintang itu!", jawabnya kesal.
Jadi, bolehkah aku meminta ijin kepadamu?
JEGLEK! Tiba-tiba semua lampu mati.
Gelap. Dengan samar-samar, aku melihat sesuatu yang ganjil. Laki-laki ini terlihat berbeda, Dia tak bisa berhenti untuk menengok ke kanan dan ke kiri berkali-kali sambil menggoyangkan kakinya. Dia terlihat takut dan, gelisah?
"Kau kenapa?", tanyaku penasaran.
"Kau tak tahu?"
"Tahu apa?", aku semakin tidak mengerti.
"Aku rabun gelap."
"Apa?"
Dia menghela napas. "Aku tak bisa melihat dalam keadaan gelap total.". Akhirnya dia berhenti menengok dan menatap lurus ke depan. "Aku bahkan tak bisa melihat bintang-bintang yang kau bicarakan tadi."
"Tengok kanan dan lihat aku!"
"Untuk apa?"
"Tengok saja!", kataku sedikit membentak.
Lagi-lagi dia mendengus. Dia menengok lalu matanya menyipit melihat ke arahku. Tatapannya menyelidik. Lalu dia kembali menatap lurus ke depan.
"Kau bisa melihatku?", tanyaku melembut.
"Jelas bisa! Jarak kita tak sampai satu meter, kau tahu!"
Aku menatap laki-laki itu. Laki-laki yang selama ini menjadi bintang yang paling terang di mataku. Bintang yang diperebutkan oleh banyak orang dan aku hanya sebagian kecil darinya. Aku ingin memilikinya. Aku ingin ketika dia jatuh, aku-lah yang menangkapnya. Memberinya berbagai harapan-harapan indah lalu mewujudkannya bersama.
Tapi apakah hal itu akan terjadi? Bintang itu jauh, seperti dirinya. Dia terlihat, tapi tak bisa digapai. Dia indah, tapi tak bisa dimiliki. Dan akhirnya, aku yang hanya bisa berharap sendirian.
Walaupun begitu, tak bisakah kau terus melihatku? Hanya melihat diriku? Tidak hanya untuk detik ini, tapi selamanya. Tidak hanya dalam kegelapan, tapi juga dalam terang. Tidak hanya dari dekat, tapi juga dari jauh. Tidak bisakah?
Mataku sudah berkaca-kaca. Tiba-tiba lampu pun menyala kembali. Seperti merasa sedang diperhatikan, dia menengok ke arahku. Buru-buru aku mengalihkan pandanganku ke depan sambil mengerjap-ngerjap mata. Berharap dia tidak melihatnya. Tidak hanya melihat, tetapi juga tidak boleh tahu. Dia tidak boleh tau perasaan ini.
Inspired by : Drama Korea "You're beautiful"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar