Selasa, 25 Maret 2014

Regret (part 2)

Bulan berlalu...

Hari ini ulang tahunku. Dan aku yakin, hari ini akan terjadi suatu hal yang tak pernah kulupakan. Tapi ternyata bukan hal yang menyenangkan...

Aku langsung duduk di bangkuku sambil meletakkan tasku yang berat. Ku lempar pandanganku ke seluruh penjuru kelas. Bahkan si penyakitan itu tidak masuk saat momen spesial ini. Katanya sahabat. Sahabat macam apa dia, pikirku. Aku mulai mengambil buku-bukuku dan memasukkannya ke laci meja. Tunggu, apa ini? Ada yang mengganjal. Ku ambil benda yang mengganjal itu. Sebuah bungkusan? Pasti dari penggemarku. Ada surat di atasnya...


Untuk Rain, sahabatku..

Selamat ulang tahun, Cantik! Ciyee yang tambah tua. Tambah dewasa, dong, ya? Aamiin. Semoga tambah cantik, tambah manis, tambah berbakti sama kedua orang tuamu J Sukses terus, ya, di klub piano-nya. Aku tahu kau berbakat dan kau pasti bisa. Aku ingin suatu hari nanti bisa denger permainan pianomu. Sudah lama sekali aku tidak mendengarmu bermain, pasti kau makin mahir, kan, ya? Aku jadi nggak sabar.

Tapi aku takut aku nggak bisa.

Mulai di usiamu ini, kita udah nggak bisa bareng-bareng lagi. Aku harus berobat ke Amerika. Tapi, kurasa percuma. Penyakitku ini udah terkenal nggak bisa disembuhkan. Paling-paling cuma nambah umurku, itu pun sedikit. Eitss, jangan sedih! Walaupun kita nggak bisa ketemu lagi, pokoknya jangan sedih. Pesanku, baik-baik, ya di sana. Jangan nakal. Pinter-pinter cari temen, ya. Aku tahu kau orang paling labil sedunia, hehe. Hati-hati, kau sekarang berjalan sendirian, Sayang. Jika kau bingung memutuskan sesuatu, ikutin kata hatimu. Apapun jalan yang kau tempuh, aku selalu mendukungmu. Semangat Raaaiiin!

Dari sahabatmu, May


Nb : Mungkin hadiahku nggak seberapa, tapi semoga kamu suka.


Aku terisak. Ku buka bungkusan itu segera. Oh, dear, sebuah syal. Syal dengan warna pelangi indah mengitarinya. Tiba-tiba ingatanku memaksa untuk diingat kembali.


Sore itu, saat hujan, aku dan May sedang berada di sebuah toko...

“Indah sekali, syal ini!”, kataku pada May. Aku masih memegangi syal berwarna pelangi itu.
“Kau suka?”, tanya May.
“Suka. Suka sekali. Sepertinya nyaman sekali jika kupakai sekarang. Cuacanya dingin sekali.”
“Benarkah?”
“Ya, benar. Tapi sayang, harganya sangat mahal. Aku tak membawa cukup uang untuk membeli syal itu.”, kataku lemas.
“Sudahlah, Rain. Selalu ada lain kali. Mari kita pulang, mamaku sudah sms aku, nih.”, ajak May. Dia langsung menggenggam tanganku dan menarikku keluar.
“Itu dia mobilku. Ayo kita ke sana!”, katanya sambil menunjuk sesuatu.
“Mana, May? Aku tak melihatnya.”, mataku mencoba mencari keberadaan mobilku.
“Di sana, di seberang jalan. Ayo! Hujannya deras sekali di sini. Cepatlah! ”, May langsung berlari tanpa memerhatikanku.

Kejadian itu terjadi cepat sekali. Tiba-tiba!

“May! Awas!”
Kecelakaan itu tak bisa dihindarkan. May langsung tak sadarkan diri. Darah mengucur dari tubuhnya. Oh, dear. Kakiku tiba-tiba lemas. Aku hanya bisa menatapnya.

Aku tak ingat apa-apa sampai tiba-tiba aku sudah ada di sebuah lorong rumah sakit. Aku sedang berdiri menyandar sebuah pintu. Entah sudah berapa lama. Ku kumpulkan seluruh kesadaranku. May di mana? Pertanyaanku langsung terjawab saat aku melihat ada seorang gadis sedang tertidur dari balik pintu. Aku langsung bergegas masuk dan duduk di samping ranjangnya. Dia terlihat sangat pucat. May kenapa? Segera saja kupaksa ingatanku untuk mengingat apa yang sudah terjadi. Kejadian itu.

Lamunanku langsung terhenti ketika tiba-tiba ada beberapa orang masuk. Seorang dokter dan seorang perawat yang mengikutinya. Sepertinya dia hendak menyuntik May karena kulihat dia sudah membawa suntikan. Aku langsung berdiri dan hendak keluar ketika tiba-tiba aku melihat ada yang aneh dengan suntikan itu. Suntikan itu kelihatan seperti.....bekas?

Aku terlambat mencegahnya.

Dasar dokter ceroboh. Ceroboh. Ceroboh. Aku mengutuknya berkali-kali.

Sejak saat itu aku tahu, May terkena HIV. Oh, Tuhan. Kasihan sekali dia. Dia terlalu baik untuk Kau beri cobaan sebesar itu. Dia tak pantas, Tuhan. Mengapa tidak aku saja?


Ku tepis segera ingatan itu. Tangisku sudah tak terbendung lagi. Aku langsung berlari menuju ke rumah May. Aku tahu rumahnya lumayan jauh dari sekolah, tapi aku sudah tak peduli lagi. Hanya dia yang kupikirkan. Dia. Aku ingin meminta maaf kepadanya. Ingin menebus semua keegoisanku. Ingin menemaninya hingga dia-lah yang tak bisa menemaniku lagi.

Aku telah sampai di gerbang masuk rumahnya. Berkali-kali ku tekan bel rumahnya. Tak ada jawaban. Bahkan tak ada tanda kehidupan di sana. Sejenak napasku berhenti. Aku tercekat. Tangisku makin menjadi-jadi. Ku putuskan untuk kembali ke rumah.

“Rain, sudah pulang?”, tanya Ibuku. Aku malas menjawabnya.
“Ibu baru saja akan ke sekolahmu untuk memberitahu sesuatu.”, tambah Ibu. Langkahku terhenti. Ibu akan memberitahuku sesuatu? Kakiku terduduk lemas.

Firasatku berkata buruk.

Ibuku langsung mendekatiku dan memegang bahuku. “Nak, terkadang sesuatu yang kita miliki tidak akan menjadi milik kita selamanya.”
“Maksud Ibu?”. Aku menggigit bibir. Tak siap dengan apa yang akan dikatakan Ibu selanjutnya.
“May. May tewas dalam perjalanan ke Amerika, Nak.”
Aku tak bisa apa-apa. Tatapanku kosong. Aku langsung berdiri menuju kamarku dan menguncinya. Tangisku pecah lagi. Ibu tak menyusulku. Dia tahu aku butuh sendiri, apalagi dalam keadaan seperti ini.


Esok harinya, aku pergi ke pemakaman May bersama Ibuku. Aku sengaja memakai syal pemberiannya. Banyak yang datang. Guru-guru, teman-teman, dan orang-orang yang tak ku kenal. Beberapa guru mencoba menghiburku atau hanya mengelus-elus pundakku. Aku tak menangis. Terlalu banyak air mata yang sudah ku keluarkan kemarin. Aku tak mau May melihatku menangis lagi.

Tiba giliranku memberikan persembahan terakhir pada May. Sebuah bunga mawar. Ku elus nisannya selembut yang aku bisa. Aku berkata setengah berbisik kepadanya, “May, lihat ini. Aku memakai syal pemberianmu. Kau tahu, aku sangat suka ini. Aku ingat saat pertama kali aku menunjukkan syal ini kepadamu. Kau tahu, tak banyak yang ku lakukan untukmu saat kau masih bersamaku. Aku akan menebusnya, May. Aku akan mengikuti pesanmu. Jaga dirimu, Sayang. Kau juga sudah berjalan sendiri di sana.


Jangan pernah sia-siakan orang yang berada di sampingmu dan menemanimu saat ini. Bisa jadi, suatu saat dia akan menghilang bagaikan debu yang ditiup angin. Tak berbekas. Tak meninggalkan apa pun sehingga kau hanya bisa berdiri sendiri tanpa ada siapapun yang memegangimu. Jagalah dia sebisamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar