Bulan berlalu...
Hari ini ulang
tahunku. Dan aku yakin, hari ini akan terjadi suatu hal yang tak pernah
kulupakan. Tapi ternyata bukan hal yang menyenangkan...
Aku langsung duduk
di bangkuku sambil meletakkan tasku yang berat. Ku lempar pandanganku ke
seluruh penjuru kelas. Bahkan si penyakitan itu tidak masuk saat momen spesial
ini. Katanya sahabat. Sahabat macam apa dia, pikirku. Aku mulai mengambil
buku-bukuku dan memasukkannya ke laci meja. Tunggu, apa ini? Ada yang
mengganjal. Ku ambil benda yang mengganjal itu. Sebuah bungkusan? Pasti dari penggemarku.
Ada surat di atasnya...
Untuk Rain,
sahabatku..
Selamat ulang tahun,
Cantik! Ciyee yang tambah tua. Tambah dewasa, dong, ya? Aamiin. Semoga tambah
cantik, tambah manis, tambah berbakti sama kedua orang tuamu J Sukses terus, ya, di
klub piano-nya. Aku tahu kau berbakat dan kau pasti bisa. Aku ingin suatu hari
nanti bisa denger permainan pianomu. Sudah lama sekali aku tidak mendengarmu
bermain, pasti kau makin mahir, kan, ya? Aku jadi nggak sabar.
Tapi aku takut aku
nggak bisa.
Mulai di usiamu ini,
kita udah nggak bisa bareng-bareng lagi. Aku harus berobat ke Amerika. Tapi,
kurasa percuma. Penyakitku ini udah terkenal nggak bisa disembuhkan.
Paling-paling cuma nambah umurku, itu pun sedikit. Eitss, jangan sedih! Walaupun
kita nggak bisa ketemu lagi, pokoknya jangan sedih. Pesanku, baik-baik, ya di
sana. Jangan nakal. Pinter-pinter cari temen, ya. Aku tahu kau orang paling
labil sedunia, hehe. Hati-hati, kau sekarang berjalan sendirian, Sayang. Jika
kau bingung memutuskan sesuatu, ikutin kata hatimu. Apapun jalan yang kau
tempuh, aku selalu mendukungmu. Semangat Raaaiiin!
Dari sahabatmu, May
Nb : Mungkin
hadiahku nggak seberapa, tapi semoga kamu suka.
Aku terisak. Ku buka
bungkusan itu segera. Oh, dear, sebuah syal. Syal dengan warna pelangi indah
mengitarinya. Tiba-tiba ingatanku memaksa untuk diingat kembali.
Sore itu, saat
hujan, aku dan May sedang berada di sebuah toko...
“Indah sekali, syal
ini!”, kataku pada May. Aku masih memegangi syal berwarna pelangi itu.
“Kau suka?”, tanya
May.
“Suka. Suka sekali. Sepertinya
nyaman sekali jika kupakai sekarang. Cuacanya dingin sekali.”
“Benarkah?”
“Ya, benar. Tapi
sayang, harganya sangat mahal. Aku tak membawa cukup uang untuk membeli syal
itu.”, kataku lemas.
“Sudahlah, Rain.
Selalu ada lain kali. Mari kita pulang, mamaku sudah sms aku, nih.”, ajak May.
Dia langsung menggenggam tanganku dan menarikku keluar.
“Itu dia mobilku.
Ayo kita ke sana!”, katanya sambil menunjuk sesuatu.
“Mana, May? Aku tak
melihatnya.”, mataku mencoba mencari keberadaan mobilku.
“Di sana, di
seberang jalan. Ayo! Hujannya deras sekali di sini. Cepatlah! ”, May langsung
berlari tanpa memerhatikanku.
Kejadian itu terjadi
cepat sekali. Tiba-tiba!
“May! Awas!”
Kecelakaan itu tak
bisa dihindarkan. May langsung tak sadarkan diri. Darah mengucur dari tubuhnya.
Oh, dear. Kakiku tiba-tiba lemas. Aku hanya bisa menatapnya.
Aku tak ingat
apa-apa sampai tiba-tiba aku sudah ada di sebuah lorong rumah sakit. Aku sedang
berdiri menyandar sebuah pintu. Entah sudah berapa lama. Ku kumpulkan seluruh kesadaranku.
May di mana? Pertanyaanku
langsung terjawab saat aku melihat ada seorang gadis sedang tertidur dari balik
pintu. Aku langsung bergegas masuk dan duduk di samping ranjangnya. Dia
terlihat sangat pucat. May kenapa? Segera saja kupaksa ingatanku untuk
mengingat apa yang sudah terjadi. Kejadian itu.
Lamunanku langsung
terhenti ketika tiba-tiba ada beberapa orang masuk. Seorang dokter dan seorang
perawat yang mengikutinya. Sepertinya dia hendak menyuntik May karena kulihat
dia sudah membawa suntikan. Aku langsung berdiri dan hendak keluar ketika
tiba-tiba aku melihat ada yang aneh dengan suntikan itu. Suntikan itu kelihatan
seperti.....bekas?
Aku terlambat
mencegahnya.
Dasar dokter
ceroboh. Ceroboh. Ceroboh. Aku mengutuknya berkali-kali.
Sejak saat itu aku
tahu, May terkena HIV. Oh, Tuhan. Kasihan sekali dia. Dia terlalu baik untuk
Kau beri cobaan sebesar itu. Dia tak pantas, Tuhan. Mengapa tidak aku saja?
Ku tepis segera
ingatan itu. Tangisku sudah tak terbendung lagi. Aku langsung berlari menuju ke
rumah May. Aku tahu rumahnya lumayan jauh dari sekolah, tapi aku sudah tak
peduli lagi. Hanya dia yang kupikirkan. Dia. Aku ingin meminta maaf kepadanya.
Ingin menebus semua keegoisanku. Ingin menemaninya hingga dia-lah yang tak bisa
menemaniku lagi.
Aku telah sampai di
gerbang masuk rumahnya. Berkali-kali ku tekan bel rumahnya. Tak ada jawaban.
Bahkan tak ada tanda kehidupan di sana. Sejenak napasku berhenti. Aku tercekat.
Tangisku makin menjadi-jadi. Ku putuskan untuk kembali ke rumah.
“Rain, sudah pulang?”,
tanya Ibuku. Aku malas menjawabnya.
“Ibu baru saja akan
ke sekolahmu untuk memberitahu sesuatu.”, tambah Ibu. Langkahku terhenti. Ibu
akan memberitahuku sesuatu? Kakiku terduduk lemas.
Firasatku berkata
buruk.
Ibuku langsung
mendekatiku dan memegang bahuku. “Nak, terkadang sesuatu yang kita miliki tidak
akan menjadi milik kita selamanya.”
“Maksud Ibu?”. Aku
menggigit bibir. Tak siap dengan apa yang akan dikatakan Ibu selanjutnya.
“May. May tewas
dalam perjalanan ke Amerika, Nak.”
Aku tak bisa
apa-apa. Tatapanku kosong. Aku langsung berdiri menuju kamarku dan menguncinya.
Tangisku pecah lagi. Ibu tak menyusulku. Dia tahu aku butuh sendiri, apalagi
dalam keadaan seperti ini.
Esok harinya, aku
pergi ke pemakaman May bersama Ibuku. Aku sengaja memakai syal pemberiannya. Banyak
yang datang. Guru-guru, teman-teman, dan orang-orang yang tak ku kenal.
Beberapa guru mencoba menghiburku atau hanya mengelus-elus pundakku. Aku tak
menangis. Terlalu banyak air mata yang sudah ku keluarkan kemarin. Aku tak mau
May melihatku menangis lagi.
Tiba giliranku memberikan
persembahan terakhir pada May. Sebuah bunga mawar. Ku elus nisannya selembut
yang aku bisa. Aku berkata setengah berbisik kepadanya, “May, lihat ini. Aku
memakai syal pemberianmu. Kau tahu, aku sangat suka ini. Aku ingat saat pertama
kali aku menunjukkan syal ini kepadamu. Kau tahu, tak banyak yang ku lakukan
untukmu saat kau masih bersamaku. Aku akan menebusnya, May. Aku akan mengikuti
pesanmu. Jaga dirimu, Sayang. Kau juga sudah berjalan sendiri di sana.”
Jangan pernah
sia-siakan orang yang berada di sampingmu dan menemanimu saat ini. Bisa jadi,
suatu saat dia akan menghilang bagaikan debu yang ditiup angin. Tak berbekas.
Tak meninggalkan apa pun sehingga kau hanya bisa berdiri sendiri tanpa ada
siapapun yang memegangimu. Jagalah dia sebisamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar