Kamis, 13 Maret 2014

Regret (part 1)

Jika tak bisa membuat hati seseorang tidak tersakiti, setidaknya perbaikilah hatinya.

Oh, sial, aku bahkan tidak bisa melakukan keduanya.

Aku tak bermaksud melakukannya. Aku, ya, mungkin aku sadar telah melakukannya tapi aku tak bermaksud membuatnya hingga seperti ini.


Saat itu kami sedang makan di kantin seperti biasanya...

“Rain, kau harus tahu, kemarin Bram terpeleset di lorong.”, celoteh May bersemangat.
“Lalu, lalu?”, sahutku tak sabar.
“Oh, kasihan sekali dia. Teman-teman tak tahan untuk tak menertawai dia. Dia sampai tak bisa berdiri saking gugupnya.”, kali ini May tak bisa menahan tawanya. Aku pun ikut tertawa bersamanya.

Tiba-tiba...

Uhuk! Uhuk!

“Kau kenapa, May?”, tanyaku khawatir.  Menurutku batuknya agak aneh, terlalu keras.
“Aku tak apa-apa, Rain. Sungguh.”, jawab May sambil menutup mulutnya. Aku hanya mendengar samar-samar.
“Oh, baiklah.”, kataku singkat. Aku sedang tak mau berdebat. Apalagi May sensitif sekali dengan pembicaraan tentang kesehatan. Sebenarnya dia tak pernah sesensitif ini terhadap suatu hal, tapi sejak hal mengerikan itu terjadi, hal yang membuat seluruh mimpi-mimpinya terputus, dia agak sedikit berubah.
“Ngomong-ngomong, aku diterima di klub piano! Hebat, kan, aku?”, kataku bersemangat. Aku sedang mencoba mengalihkan pembicaraan karena kulihat raut wajah May mulai terlihat muram.
“Selamat, Rain sayang. Aku tahu kau pasti bisa. Kau benar-benar berbakat.”, puji May sambil mengacungkan dua ibu jarinya di hadapanku. Baiknya, dia...


Beberapa hari kemudian di ruang musik...

Aku sedang memilih-milih lagu yang akan kumainkan ketika aku mendengar seorang anak berambut pirang dan seorang anak berambut lurus sedang membicarakan sesuatu.
“Eh, dia-kah anak baru yang kata Miss Vin berbakat itu? Bukannya dia teman anak yang sakit-sakitan itu?”, kata anak berambut pirang.
“Anak yang sakit-sakitan? Siapa?”, kali ini anak berambut lurus berbicara.
“Itu, si May, yang sebentar lagi akan meninggal.”, kata anak berambut pirang dengan sinis. Sepertinya dia memandang ke arahku. Telingaku mulai panas.
“Oh, iya, benar. Si anak penyakitan itu. Katanya, dia kena penyakit itu karena sering gonta-ganti pacar dan......kau tahu sendiri lah, Foon.”, suaranya sepertinya agak dikeraskan.
Aku tak tahan. Aku langsung beranjak pergi dari ruangan itu.


Entah mengapa semenjak itu pikiranku mulai terpengaruh oleh perkataan kedua anak itu. Apalagi setelah Miss Vin berkata bahwa semua anggota klub musik harus menjaga kesehatan. Aku mulai menjauh dari May. Aku sering tidak makan di kantin karena tak mau menemuinya. Aku bahkan bertukar tempat duduk dengan teman sekelasku. Membalas sapaannya saja aku enggan. Dan aku tahu, aku mulai jijik kepadanya...

Oh, Tuhan, kutuklah aku.

Dia terlihat sangat pucat semenjak itu. Sering batuk-batuk di kelas. Aku bahkan sampai menghitung ada lebih dari sepuluh kali dia batuk dalam satu jam pelajaran. Dia juga sangat lemas. Seringkali dia pingsan ketika sudah lewat jam 12 siang. Pandangannya redup. Sangat redup. Dia juga tak seceria dulu. Dan yang paling menyedihkan adalah dia menjadi sangat pendiam. Sangat.

Tapi, rasa jijikku mampu menghilangkan rasa kasihanku padanya. Pernah suatu hari...

“Rain, kau kenapa? Kau marah padaku? Apa yang telah kulakukan sehingga kau memperlakukanku seperti ini?”, tanya May. Sepertinya dia sedang menahan tangis.
“Tidak ada.”, jawabku ketus.
“Ayolah, Rain. Kau sahabatku dan aku tahu kau sedang menyimpan sesuatu.”, kata May putus asa.
“Baiklah, kau ingin tahu? Satu-satunya yang salah di sini adalah kau dan penyakitmu. Kau tahu penyakitmu itu sangat menjijikkan dan aku jijik kepadamu. Sekarang, menjauhlah dariku sebelum penyakitmu menular kepadaku dan aku terpaksa harus mendorongmu menjauh dariku!”
May terisak. Dia bergegas kembali ke tempat duduknya sambil menutup wajahnya sebelum tangisnya mulai pecah. Aku pun masih tetap duduk tanpa merasa bersalah dengan apa yang telah kukatakan kepadanya.


Bulan berlalu...

Hari ini ulang tahunku. Dan aku yakin, hari ini akan terjadi suatu hal yang tak pernah kulupakan. Tapi ternyata bukan hal yang menyenangkan...

Aku langsung duduk di bangkuku sambil meletakkan tasku yang berat. Kulempar pandanganku ke seluruh penjuru kelas. Bahkan si penyakitan itu tidak masuk saat momen spesial ini. Katanya sahabat. Sahabat macam apa dia, pikirku. Aku mulai mengambil buku-bukuku dan memasukkannya ke laci meja. Tunggu, apa ini? Ada yang mengganjal. Kuambil benda yang mengganjal itu. Sebuah bungkusan? Pasti dari penggemarku. Ada surat di atasnya...

Aku pun penasaran, akhirnya kubuka surat itu.

To be continued.............

Tidak ada komentar:

Posting Komentar