Jika tak bisa
membuat hati seseorang tidak tersakiti, setidaknya perbaikilah hatinya.
Oh, sial, aku bahkan
tidak bisa melakukan keduanya.
Aku tak bermaksud
melakukannya. Aku, ya, mungkin aku sadar telah melakukannya tapi aku tak
bermaksud membuatnya hingga seperti ini.
Saat itu kami sedang
makan di kantin seperti biasanya...
“Rain, kau harus
tahu, kemarin Bram terpeleset di lorong.”, celoteh May bersemangat.
“Lalu, lalu?”,
sahutku tak sabar.
“Oh, kasihan sekali
dia. Teman-teman tak tahan untuk tak menertawai dia. Dia sampai tak bisa
berdiri saking gugupnya.”, kali ini May tak bisa menahan tawanya. Aku pun ikut
tertawa bersamanya.
Tiba-tiba...
Uhuk! Uhuk!
“Kau kenapa, May?”,
tanyaku khawatir. Menurutku batuknya
agak aneh, terlalu keras.
“Aku tak apa-apa,
Rain. Sungguh.”, jawab May sambil menutup mulutnya. Aku hanya mendengar
samar-samar.
“Oh, baiklah.”,
kataku singkat. Aku sedang tak mau berdebat. Apalagi May sensitif sekali dengan
pembicaraan tentang kesehatan. Sebenarnya dia tak pernah sesensitif ini
terhadap suatu hal, tapi sejak hal mengerikan itu terjadi, hal yang membuat
seluruh mimpi-mimpinya terputus, dia agak sedikit berubah.
“Ngomong-ngomong,
aku diterima di klub piano! Hebat, kan, aku?”, kataku bersemangat. Aku sedang
mencoba mengalihkan pembicaraan karena kulihat raut wajah May mulai terlihat
muram.
“Selamat, Rain
sayang. Aku tahu kau pasti bisa. Kau benar-benar berbakat.”, puji May sambil
mengacungkan dua ibu jarinya di hadapanku. Baiknya, dia...
Beberapa hari
kemudian di ruang musik...
Aku sedang
memilih-milih lagu yang akan kumainkan ketika aku mendengar seorang anak
berambut pirang dan seorang anak berambut lurus sedang membicarakan sesuatu.
“Eh, dia-kah anak
baru yang kata Miss Vin berbakat itu? Bukannya dia teman anak yang sakit-sakitan
itu?”, kata anak berambut pirang.
“Anak yang
sakit-sakitan? Siapa?”, kali ini anak berambut lurus berbicara.
“Itu, si May, yang
sebentar lagi akan meninggal.”, kata anak berambut pirang dengan sinis.
Sepertinya dia memandang ke arahku. Telingaku mulai panas.
“Oh, iya, benar. Si
anak penyakitan itu. Katanya, dia kena penyakit itu karena sering gonta-ganti
pacar dan......kau tahu sendiri lah, Foon.”, suaranya sepertinya agak
dikeraskan.
Aku tak tahan. Aku
langsung beranjak pergi dari ruangan itu.
Entah mengapa
semenjak itu pikiranku mulai terpengaruh oleh perkataan kedua anak itu. Apalagi
setelah Miss Vin berkata bahwa semua anggota klub musik harus menjaga
kesehatan. Aku mulai menjauh dari May. Aku sering tidak makan di kantin karena
tak mau menemuinya. Aku bahkan bertukar tempat duduk dengan teman sekelasku.
Membalas sapaannya saja aku enggan. Dan aku tahu, aku mulai jijik kepadanya...
Oh, Tuhan, kutuklah
aku.
Dia terlihat sangat
pucat semenjak itu. Sering batuk-batuk di kelas. Aku bahkan sampai menghitung
ada lebih dari sepuluh kali dia batuk dalam satu jam pelajaran. Dia juga sangat
lemas. Seringkali dia pingsan ketika sudah lewat jam 12 siang. Pandangannya
redup. Sangat redup. Dia juga tak seceria dulu. Dan yang paling menyedihkan
adalah dia menjadi sangat pendiam. Sangat.
Tapi, rasa jijikku mampu
menghilangkan rasa kasihanku padanya. Pernah suatu hari...
“Rain, kau kenapa?
Kau marah padaku? Apa yang telah kulakukan sehingga kau memperlakukanku seperti
ini?”, tanya May. Sepertinya dia sedang menahan tangis.
“Tidak ada.”,
jawabku ketus.
“Ayolah, Rain. Kau
sahabatku dan aku tahu kau sedang menyimpan sesuatu.”, kata May putus asa.
“Baiklah, kau ingin
tahu? Satu-satunya yang salah di sini adalah kau dan penyakitmu. Kau tahu
penyakitmu itu sangat menjijikkan dan aku jijik kepadamu. Sekarang, menjauhlah
dariku sebelum penyakitmu menular kepadaku dan aku terpaksa harus mendorongmu
menjauh dariku!”
May terisak. Dia
bergegas kembali ke tempat duduknya sambil menutup wajahnya sebelum tangisnya
mulai pecah. Aku pun masih tetap duduk tanpa merasa bersalah dengan apa yang
telah kukatakan kepadanya.
Bulan berlalu...
Hari ini ulang
tahunku. Dan aku yakin, hari ini akan terjadi suatu hal yang tak pernah
kulupakan. Tapi ternyata bukan hal yang menyenangkan...
Aku langsung duduk
di bangkuku sambil meletakkan tasku yang berat. Kulempar pandanganku ke seluruh
penjuru kelas. Bahkan si penyakitan itu tidak masuk saat momen spesial ini.
Katanya sahabat. Sahabat macam apa dia, pikirku. Aku mulai mengambil
buku-bukuku dan memasukkannya ke laci meja. Tunggu, apa ini? Ada yang
mengganjal. Kuambil benda yang mengganjal itu. Sebuah bungkusan? Pasti dari penggemarku.
Ada surat di atasnya...
Aku pun penasaran, akhirnya kubuka surat itu.
To be continued.............
Tidak ada komentar:
Posting Komentar