Sabtu, 25 Januari 2014

Aku tak pernah meninggalkanmu..

Sudah sepuluh menit aku terpaku menatap kado ini, kado yang tak pernah terlintas dalam pikiranku, sederhana tapi membekas. Bukan. Bukan sepuluh menit. Hampir setengah jam. Aku merindukannya. Ya, merindukan pemberi kado ini, sahabat yang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Entah mengapa, aku merasa kesepian akhir-akhir ini. Mungkin kalian mengira bahwa aku sedag ada masalah dengan sahabatku. Tidak. Aku hanya sudah lama putus hubungan dengannya, sejak dia mengatakan itu...

Dua bulan yang lalu...

Aku senang sekali, akhirnya setelah sekian lama berharap, aku dibelikan sebuah motor. Walaupun belum bisa mengendarainya, setidaknya aku sudah mengantongi rasa senangku ini. Aku hanya boleh diijinkan mengendarainya setelah ujian. Ya, itu sangat lama sekali mengingat waktu berjalan lebih lambat dari biasanya karena aku menunggu dan terus menunggu, hingga menghitung mundur hari-hari yang telah berlalu.

Akhirnya, waktu itu tiba. Waktu di mana semua rasa lelahku untuk menunggu terbayar sudah oleh kegembiraan yang memancar. Bak seekor anak burung yang langsung berkicau ketika induknya sudah datang, aku sangat senang. Aku sudah diperbolehkan untuk mengendarai motor. Mulailah aku belajar mengendarainya. Seperti kilat yang sampai ke bumi tidak lebih dari satu detik, aku juga langsung mahir dalam waktu tidak lebih dari satu minggu. Oh, senangnya. Aku bisa lebih sering hang out dengan teman-teman.

Putri, sahabatku, sudah kujadikan tour guide-ku secara tidak resmi. Kami sering sekali jalan bersama. Namun ada satu hal yang sangat aku benci dari diriku, aku susah sekali menghafal jalan. Jalan apa pun itu. Berulang kali aku dinasehati oleh sahabatku untuk terus mencoba, tetapi aku tetap tidak bisa. Ah, aku hampir mengutuk diriku sendiri.

Hal ini berlangsung cukup lama dan sepertinya sedikit mengganggu sahabatku. Dia menjadi sensitif sekali.
"Put, aku boleh ke rumahmu hari ini?", tanyaku suatu hari.
"Ngapain? Paling kamu ke sini cuma mau minta film.", balasnya ketus.
"Ya nggak apa-apa, tah."
"Udahlah. Nggak usah. Nggak penting."
Aku diam. Kata-kata itu cukup menegurku. Mungkin aku terlalu sering merepotkannya, atau mungkin dia bosan karena aku terlalu sering ke rumahnya. Oh, iya, semenjak aku bisa mengendarai motor, aku memang sering ke rumahnya. Jadi aku maklum jika dia bosan. Kutuklah diriku. Sebenarnya, hanya ada satu alasan mengapa aku melakukan hal itu. Aku takut suatu hari nanti tiba-tiba aku akan berubah. Aku tipe orang yang mudah melupakan sesuatu dan aku tidak mau dia menjadi salah satu korban dari sifatku ini. Ketakutan macam apa itu?

"Bodohnya aku! Bagaimana bisa dia akan sakit hati jika aku lupakan? Hei! Masih ada teman-temannya yag lain! Aku teman yang hanya merepotkannya saja. Aku teman yang hanya bisa bertanya "Ke sini lewat mana?". Aku akan semakin membuatnya terganggu jika aku masih tetap saja di sini, seperti ini. Bodoh! Bodoh! Bodoh!", pikirku dalam hati.

Mulai saat itu, aku menjauhinya. Bukan menjauhi, menjaga jarak. Aku benar-benar membatasi kontak dengannya, kontak mata, kontak sms, kontak twitter, bahkan kontak hati. Aku hanya berhubungan dengannya jika perlu. Masa bodoh dengan perasaannya karena aku yakin dia dengan mudah melupakanku. Egoisnya diriku!

Maaf, aku tak bermaksud meninggalkanmu. Aku hanya berpikir bahwa mungkin cukup sampai di sini saja aku mengisi kenangan bersamamu. Seperti ilmuwan, ada yang tidak menyelesaikan karyanya hingga akhir. Begitu pula aku. Aku terlalu takut untuk menyelesaikannya. Aku takut dengan hasil akhirnya nanti. Namun, asal kau tahu, aku tak pernah benar-benar meninggalkanmu. Hubungi aku jika kau perlu aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar