Rabu, 26 November 2014

Tiga Orang Tertolong (part 1)

Tersebutlah, ada seorang lelaki paruh baya yang sedang menunggangi seekor kuda. Dia hendak berdagang ke sebuah negeri, negeri yang penuh dengan para pedagang, negeri Syam namanya. Kuda itu berjalan pelan, sudah terlalu letih untuk berjalan. Apalagi ditambah cuaca yang sangat panas dan hampir membakar kulit. Sejauh mata memandang hanya terdapat pasir, pasir, dan pasir. Tak ada seorang pun di sana kecuali lelaki tersebut dan kuda yang ditungganginya.

Tita-tiba, kudanya duduk, berhenti. “Mengapa kau berhenti?”, tanya lelaki itu. Dia terlihat seperti berbicara sendiri. “Bangunlah!”. Dia pun turun dan memutuskan untuk beristirahat di tempat tersebut. Dia meraih tasnya dari punggung kuda lalu membukanya. Sayang, dia mendapati bekalnya sudah hampir habis padahal perjalanannya masih cukup jauh. Akhirnya, dia hanya minum seteguk air saja. Ditutupnya tas tersebut, lalu dia tertidur.
                
Beberapa saat kemudian lelaki terbangun. Ah, sudah berapa lama dia tertidur? Dia mencoba mengembalikan kesadarannya sambil mengamati keadaan sekitar. Tunggu, di mana kuda dan tasnya? Mengapa tidak ada? Dia menyapu seluruh pandangannya ke tempat itu. Hilang? Tapi, bagaimana bisa? Lelaki itu terkejut, dia mencoba mencari-cari kuda dan tasnya. Dia sudah berusaha keras, tapi tetap tidak ada. Karena sudah tidak ada pilihan lain, dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
                
Di tengah perjalanan, lelaki itu merasa kembali kehausan. Ah, sayang, air minumnya berada di dalam tas yang hilang tersebut. Dia kembali berjalan. Beberapa meter kemudian dia mendapati ada seorang pemuda yang sedang membaca buku di kejauhan. Dia pun menghampiri pemuda tersebut.
                
“Wahai Pemuda, apakah kau masih memiliki air tersisa yang masih bisa aku minum?”, tanya lelaki itu.
                
Pemuda itu pun menoleh. Wajahnya terlihat hitam, kusam, dan terbakar. Kulitnya hampir mengelupas. “Maafkan saya, Tuan. Tetapi saya sudah tidak memiliki apa-apa. Air minum saya sudah habis sejak tiga hari yang lalu. Saya sungguh minta maaf.”, jawabnya lemah.
                
Lelaki itu pun tersenyum. Dia berterimakasih lalu pergi meninggalkan pemuda tersebut untuk melanjutkan perjalanannya. Setelah lama berjalan, dia mendapati seorang ibu hamil yang sedang tertidur lelap di kejauhan. Dia pun menghampiri ibu tersebut lalu membangunkannya.
                
“Wahai Ibu! Apakah kau masih memiliki air tersisa yang masih bisa aku minum?”, tanya lelaki itu sambil menggoyang-goyangkan tubuh ibu tersebut.
                
Si ibu pun terbangun. Wajahnya terlihat kusut, kecapaian. Dia meringis kesakitan. Sebelah tangannya memegangi perutnya. Dia mencoba untuk duduk dengan susah payah.
                
“Sudahlah, wahai Ibu! Kau tak perlu bangun. Tidak masalah bila kau tetap tidur.”, kata lelaki itu iba.
               
 “Apa yang kau katakan tadi, Tuan?”, tanya ibu itu sambil tidur.
                
“Apakah kau masih memiliki air tersisa yang masih bisa aku minum?”, tanyanya sekali lagi.
                
“Maafkan aku, Tuan. Tetapi saya sudah tidak memiliki apa-apa. Air minum saya sudah habis dua hari yang lalu. Saya minta maaf.”, jawab ibu itu lemah.
                
Lelaki itu pun tersenyum. Dia berterimakasih lalu pergi meninggalkan ibu hamil tersebut untuk melanjutkan perjalanannya. Setelah lama berjalan, dia mendapati seorang anak kecil sedang menangis di kejauhan. Dia pun menghampiri anak kecil tersebut.
                
“Wahai anak kecil, mengapa kau menangis?, tanya lelaki itu lembut sambil mengusap kepala anak kecil tersebut.
                
“Saya haus sekali, Tuan. Sedangkan air minum saya sudah habis sejak kemarin.”, jawab anak kecil itu sesenggukan.
                
“Maafkan aku, Nak. Tetapi air minumku juga sudah habis. Aku tidak bisa berbagi apa-apa denganmu.”. Lelaki itu pun tersenyum iba sambil mengelus kepala anak tersebut sekali lagi. Dia pun pergi meninggalkannya untuk melanjutkan perjalanan. Setelah lama berjalan, tiba tiba kakinya menyandung sesuatu.
                
“Aduh, apa ini?”, kata lelaki itu sambil memegangi kakinya. Dia mencoba mengambil barang yang dia sandung tadi dengan sebelah tangannya. “Hah? Sebuah botol?”, tanyanya tidak percaya. Dia membuka botol tersebut. Syukurlah, masih ada air yang tersisa di sana. Dia pun hendak meminumnya, tapi seketika dia teringat dengan anak kecil tadi. “Ah, sebaiknya biarlah anak kecil itu yang meminumnya dahulu.”
                
Lelaki itu kembali ke tempat anak kecil tadi berada. Diberikannya botol air minum itu kepada anak kecil tersebut. Sesaat, anak kecil itu tersenyum sambil menerima botol air minum tersebut.
                
“Minumlah!”, kata lelaki itu.
                
“Terimakasih banyak, Tuan.”, jawab anak kecil itu dengan riang. Dia langsung membuka botol tersebut dan meminum sepertiga isinya. Setelah merasa cukup, dia menutup lalu mengembalikan botol tersebut kepada si lelaki sambil tersenyum sekali lagi, kali ini lebih lebar dari yang tadi.

                
Lelaki itu balas tersenyum. Dia menerima botol dan hendak meminum isinya, tapi seketika dia teringat dengan ibu hamil tadi. “Ah, sebaiknya biarlah ibu itu yang meminumnya dahulu.”


To be continued...................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar