Tersebutlah, ada seorang lelaki paruh baya yang sedang
menunggangi seekor kuda. Dia hendak berdagang ke sebuah negeri, negeri yang
penuh dengan para pedagang, negeri Syam namanya. Kuda itu berjalan pelan, sudah
terlalu letih untuk berjalan. Apalagi ditambah cuaca yang sangat panas dan
hampir membakar kulit. Sejauh mata memandang hanya terdapat pasir, pasir, dan
pasir. Tak ada seorang pun di sana kecuali lelaki tersebut dan kuda yang
ditungganginya.
Tita-tiba,
kudanya duduk, berhenti. “Mengapa kau berhenti?”, tanya lelaki itu. Dia
terlihat seperti berbicara sendiri. “Bangunlah!”. Dia pun turun dan memutuskan
untuk beristirahat di tempat tersebut. Dia meraih tasnya dari punggung kuda
lalu membukanya. Sayang, dia mendapati bekalnya sudah hampir habis padahal
perjalanannya masih cukup jauh. Akhirnya, dia hanya minum seteguk air saja.
Ditutupnya tas tersebut, lalu dia tertidur.
Beberapa
saat kemudian lelaki terbangun. Ah, sudah berapa lama dia tertidur? Dia mencoba
mengembalikan kesadarannya sambil mengamati keadaan sekitar. Tunggu, di mana
kuda dan tasnya? Mengapa tidak ada? Dia menyapu seluruh pandangannya ke tempat
itu. Hilang? Tapi, bagaimana bisa? Lelaki itu terkejut, dia mencoba
mencari-cari kuda dan tasnya. Dia sudah berusaha keras, tapi tetap tidak ada.
Karena sudah tidak ada pilihan lain, dia memutuskan untuk melanjutkan
perjalanan.
Di
tengah perjalanan, lelaki itu merasa kembali kehausan. Ah, sayang, air minumnya
berada di dalam tas yang hilang tersebut. Dia kembali berjalan. Beberapa meter
kemudian dia mendapati ada seorang pemuda yang sedang membaca buku di kejauhan.
Dia pun menghampiri pemuda tersebut.
“Wahai
Pemuda, apakah kau masih memiliki air tersisa yang masih bisa aku minum?”,
tanya lelaki itu.
Pemuda
itu pun menoleh. Wajahnya terlihat hitam, kusam, dan terbakar. Kulitnya hampir
mengelupas. “Maafkan saya, Tuan. Tetapi saya sudah tidak memiliki apa-apa. Air
minum saya sudah habis sejak tiga hari yang lalu. Saya sungguh minta maaf.”,
jawabnya lemah.
Lelaki
itu pun tersenyum. Dia berterimakasih lalu pergi meninggalkan pemuda tersebut
untuk melanjutkan perjalanannya. Setelah lama berjalan, dia mendapati seorang
ibu hamil yang sedang tertidur lelap di kejauhan. Dia pun menghampiri ibu
tersebut lalu membangunkannya.
“Wahai
Ibu! Apakah kau masih memiliki air tersisa yang masih bisa aku minum?”, tanya
lelaki itu sambil menggoyang-goyangkan tubuh ibu tersebut.
Si ibu
pun terbangun. Wajahnya terlihat kusut, kecapaian. Dia meringis kesakitan.
Sebelah tangannya memegangi perutnya. Dia mencoba untuk duduk dengan susah
payah.
“Sudahlah,
wahai Ibu! Kau tak perlu bangun. Tidak masalah bila kau tetap tidur.”, kata
lelaki itu iba.
“Apa
yang kau katakan tadi, Tuan?”, tanya ibu itu sambil tidur.
“Apakah
kau masih memiliki air tersisa yang masih bisa aku minum?”, tanyanya sekali
lagi.
“Maafkan
aku, Tuan. Tetapi saya sudah tidak memiliki apa-apa. Air minum saya sudah habis
dua hari yang lalu. Saya minta maaf.”, jawab ibu itu lemah.
Lelaki
itu pun tersenyum. Dia berterimakasih lalu pergi meninggalkan ibu hamil
tersebut untuk melanjutkan perjalanannya. Setelah lama berjalan, dia mendapati
seorang anak kecil sedang menangis di kejauhan. Dia pun menghampiri anak kecil
tersebut.
“Wahai
anak kecil, mengapa kau menangis?, tanya lelaki itu lembut sambil mengusap
kepala anak kecil tersebut.
“Saya
haus sekali, Tuan. Sedangkan air minum saya sudah habis sejak kemarin.”, jawab
anak kecil itu sesenggukan.
“Maafkan
aku, Nak. Tetapi air minumku juga sudah habis. Aku tidak bisa berbagi apa-apa
denganmu.”. Lelaki itu pun tersenyum iba sambil mengelus kepala anak tersebut
sekali lagi. Dia pun pergi meninggalkannya untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah lama berjalan, tiba tiba kakinya menyandung sesuatu.
“Aduh,
apa ini?”, kata lelaki itu sambil memegangi kakinya. Dia mencoba mengambil
barang yang dia sandung tadi dengan sebelah tangannya. “Hah? Sebuah botol?”,
tanyanya tidak percaya. Dia membuka botol tersebut. Syukurlah, masih ada air
yang tersisa di sana. Dia pun hendak meminumnya, tapi seketika dia teringat
dengan anak kecil tadi. “Ah, sebaiknya biarlah anak kecil itu yang meminumnya
dahulu.”
Lelaki
itu kembali ke tempat anak kecil tadi berada. Diberikannya botol air minum itu
kepada anak kecil tersebut. Sesaat, anak kecil itu tersenyum sambil menerima botol
air minum tersebut.
“Minumlah!”,
kata lelaki itu.
“Terimakasih
banyak, Tuan.”, jawab anak kecil itu dengan riang. Dia langsung membuka botol
tersebut dan meminum sepertiga isinya. Setelah merasa cukup, dia menutup lalu
mengembalikan botol tersebut kepada si lelaki sambil tersenyum sekali lagi,
kali ini lebih lebar dari yang tadi.
Lelaki
itu balas tersenyum. Dia menerima botol dan hendak meminum isinya, tapi
seketika dia teringat dengan ibu hamil tadi. “Ah, sebaiknya biarlah ibu itu
yang meminumnya dahulu.”
To be continued...................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar